Hampir setiap individu pernah mengalami krisis kepercayaan diri dalam menghadapi situasi atau persoalan dalam hidupnya, mulai sejak usia kanak-kanak, dewasa bahkan usia lanjut. Percaya diri merupakan suatu sikap dan keyakinan individu terhadap kemampuan diri, dengan menerima secara positif atau negatif segala bentuk potensi yang dimiliki. Percaya diri mampu menciptakan individu bersikap otonom dan mewujudkan segenap otoritas yang dimiliki secara sempurna.
Bukti bahwa individu dengan percaya diri tinggi, kecenderungan dapat menyelesaikan berbagai tugas atau pekerjaan sesuai dengan tahapan perkembangannya secara baik, merasa berharga, mempunyai keberanian dan kemampuan untuk meningkatkan prestasinya, mempertimbangkan berbagai pilihan serta secara tepat mampu membuat keputusan yang penting dalam hidupnya dan sebaliknya (Lie, 2003: 23).
Maslow (dalam As`ad, 2004: 49), menilai manusia secara substansi juga merupakan makhluk sosial disamping sebagai kualitas personal, memiliki naluri untuk berhubungan dengan masyarakat dan lingkungan sekitar. Nilai individu yang merupakan konstruk sosial, terbukti dengan adanya kebutuhan akan perasaan diterima, dihargai dan dihormati orang lain, berprestasi dan ikut serta secara berkelompok.
Murray mengungkapkan hubungan antara individu dengan individu lain tersebut merupakan kebutuhan berafiliasi. Berafiliasi merupakan kebutuhan nilai-nilai kerjasama antar sesama, saling memberikan rasa senang (afektif), patuh dan menjunjung aspek kesetiakawan yang utuh (Hall & Lindzey, 2005: 35). Individu dan dorongan akan berafiliasi merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan dan saling mempengaruhi serta merupakan kebutuhan hubungan dengan orang lain secara akrab (Mc Clelland dalam As`ad, 2004: 53).
Kebutuhan berafiliasi (need for affiliation), merupakan kebutuhan nyata pada setiap individu, terlepas dari status, kedudukan, jabatan, maupun pekerjaan yang dimilikinya. Kebutuhan ini pada umumnya tercermin pada keinginan berada pada situasi yang bersahabat dalam interaksi seorang dengan orang lain. Individu akan merasa senang, aman, dan berharga ketika dirinya diterima dan memperoleh tempat di dalam kelompok. Sebaliknya, akan merasa cemas, kurang berharga atau cemas ketika dirinya tidak diterima atau bahkan disisihkan oleh kelompoknya. Karena itu dalam konteks apapun individu akan dimotivasi oleh kebutuhan ini dalam kehidupan personal dan sosialnya (Ali & Asrori, 2006: 159).
 |
Percaya Diri |
Di lingkungan pendidikan seperti sekolah, aspek percaya diri dan berafiliasi perlu ditanamkan secara dini terhadap peserta didik melalui lingkungan interaktif dalam pembelajaran dan penghargaan. Karakteristik ketika sekolah belum mampu menanamkan aspek ini secara maksimal, terlihat banyaknya siswa-siswi yang cenderung takut setiap menghadapi ujian dan anti sosial, cenderung menarik perhatian dengan cara kurang wajar, kurang berani menyatakan pendapat, timbulnya rasa malu berlebihan dan sebagainya. Kondisi demikian, bila dibiarkan tidak saja berpotesi menghambat proses belajar siswa melainkan juga menghambat hubungan-hubungan sosialnya (Hakim, 2005: 73).
Aspek percaya diri dan kebutuhan akan berafiliasi turut mempengaruhi sikap dan pola perilaku individu, terutama menjelang masa akhir kanak-kanak atau usia sekolah. Satu sisi mereka masih belum lepas dari masa kanak-kanak, di sisi lain mereka sudah dituntut untuk belajar. Dalam kondisi transisi inilah, tuntutan terhadap rasa percaya diri dan berafiliasi sangat besar, jika tidak direspon secara tepat berpotensi menimbulkan dampak negatif bagi perkembangan bio-psikososial individu di masa mendatang (Hurlock, 2002: 209).
Siswa dalam memenuhi kebutuhan berfiliasi, pada dasarnya dituntut untuk bisa membedakan fungsi dan peran menjadi anak ketika di rumah, teman di lingkungan masyarakat dan murid di sekolah. Jika kebutuhan berafiliasi siswa terpenuhi dengan baik, maka akan tercipta kondisi fisik, psikis dan sosial yang matang dan sebaliknya akan menjadikan konflik kehilangan rasa percaya diri, minder dan siswa akan mengalami kesulitan untuk memenuhi aspek pemenuhan dalam tumbuh kembangnya secara sehat.
Di lingkungan sekolah sikap percaya diri dan berafiliasi, memang perlu ditanamkan secara dini kepada siswa sebagai bekal belajar akademik dan bersosialisasi dengan teman sebaya. Percaya diri terkait erat dengan pengungkapan potensi-potensi diri siswa, sedangkan berafiliasi berhubungan dengan cara bergaul dan bersosial yang baik. Penelitian Baiti (2003: 103) misalnya, mengungkap bahwa terdapat hubungan signifikan antara percaya diri dengan pengungkapan diri atau berafiliasi siswa. Siswa yang percaya diri akan selalu mampu untuk berpikir positif, bertindak realistis dalam hidup, mandiri serta memiliki keberanian untuk berbagi informasi tentang dirinya dengan orang lain.
Sedangkan Hakim (2008: 69), menyimpulkan bahwa terdapat hubungan positif antara variabel percaya diri dengan kemandirian siswa dengan rhitung = 0,376 > rtabel = 0,235 dan signifikansi 0,035 > 0,05 maka terdapat hubungan positif antara varibel X dan Y. Kedua hasil penelitian tersebut, dapat memberikan gambaran bahwa sikap percaya diri tidak saja mendorong individu untuk mampu berafiliasi dengan lingkungannya tetapi juga memotivasi individu menjadi mandiri seutunya.
Ketika aspek percaya diri tidak dimiliki siswa dalam proses pembelajaran, maka akan muncul sikap malas, tidak fokus, mudah bosan, kesulitan menyelesaikan tugas-tugas belajar, timbulnya rasa malu berlebihan, tumbuhnya sikap pengecut, sering mencontek saat menghadapi tes, mudah cemas dalam menghadapi berbagai situasi, salah tingkah dalam menghadapi lawan jenis, tawuran dan main kroyok serta tidak pernah optimal dalam mengaplikasikan aspek kognitif, afektif dan psikomotorik yang dibutuhkan selama proses belajar mengajar berlangsung (Hakim, 2005: 79). Bahkan Engkoswara menyebutkan kelemahan sikap berafiliasi siswa dalam belajar, akan berakibat pada gaya belajar yang buruk, suka mengganggu teman, mudah tidak betah dalam kelas dan malas mendengarkan penjelasan-penjelasan guru (Ali & Asrori, 2005: 107). Fenomena ini, yang kemudian akan peneliti bahas dan cari sejauh mana tingkat hubungan dan aspek saling mempengaruhi antara sikap percaya diri dengan dorongan kebutuhan berafiliasi siswa di sekolah.
Berdasarkan hasil studi pendahuluan dengan teknik wawancara terhadap sejumlah guru kelas VIII MTsN Malang 2 Cemoro Kandang, ditemukan dari 30 siswa kelas VIII, 14 (46,7%) memiliki sikap suka menyendiri di kelas, suka murung dan cenderung tidak percaya diri dalam melakukan permainan sosial dengan teman-teman sebayanya, 9 (30%) bertingkah sangat bersahabat, suka membantu kesulitan-kesulitan teman serta menjadi pemimpin diantara teman-temannya dan 7 (23,3%) diantaranya cenderung memiliki sikap kurang tegas atau ikut-ikutan saja dengan apa yang dilakukan teman-temannya yang lain. Perilaku-perilaku yang nampak pada sejumlah siswa tersebut, kemudian akan dijadikan tolak ukur penelitian apakah ada hubungannya ketika rasa percaya diri tidak dimiliki siswa akan menjadikannya tidak bisa berafiliasi atau dengan rasa percaya diri yang tinggi akan mendorong siswa memiliki sikap berafiliasi yang baik. Kondisi-kondisi inilah yang akan dicari jawabanya dalam rumusan penelitian lebih lanjut.